Tampilkan postingan dengan label PSIKOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSIKOLOGI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Desember 2011

10 TANDA RESIKO BUNUH DIRI

The National of Mental Health melaporkan bahwa orang pada kelompok usia 65 tahun menyumbang 16 persen dari semua kasus bunuh diri tahun 2004. Di negara maju, seperti Amerika, baru 1 dari 10 pasien depresi yang mendapatkan terapi yang tepat.
Para ahli mengatakan, kondisi ini sebenarnya tidak perlu terjadi apabila bisa terdeteksi lebih awal karena pada dasarnya depresi dapat diobati. Oleh karena itu, penting untuk tidak mengabaikan tanda-tanda peringatan yang memicu depresi.
Setiap orang yang mengalami depresi harus menemui dokter atau ahli kesehatan mental profesional secepat mungkin dan mendapatkan pengobatan yang tepat. Menurut Barb Delker, ahli terapis keluarga di AS, ada 10 tanda-tanda risiko yang memicu seseorang untuk melakukan bunuh diri, seperti dijelaskan di bawah ini:

1. Berbicara atau mengancam untuk menyakiti diri sendiri.

2. Memperoleh senjata api, pil, atau cara lain untuk bunuh diri.

3. Berbicara tentang kematian atau bunuh diri menjadi sesuatu yang biasa atau lumrah bagi orang tersebut.

4. Merasa putus asa, sering mengamuk, emosi, atau berencana balas dendam.
5. Bertindak sembrono atau terlibat dalam kegiatan berisiko.

6. Merasa terjebak, seperti tidak ada jalan keluar dalam menghadapi sebuah situasi.

7. Peningkatan penyalahgunaan zat adiktif.

8. Menarik diri dari keluarga, teman, atau masyarakat.

9. Merasa cemas, tidak bisa tidur, tidur sepanjang waktu.

10. Perubahan mood secara dramatis.
Delker mengatakan, orang dengan depresi sebaiknya membicarakan masalahnya dengan orang terdekat sehingga perasaan yang dipendam bisa sedikit lega. Sementara itu, dukungan orang terdekat atau keluarga harus terus diberikan.

"Depresi merupakan penyebab bunuh diri, tetapi tidak semua orang yang melakukan bunuh diri disebabkan depresi," kata Delker.

Jumat, 23 Desember 2011

Menyiasati Insomnia


Kemampuan manusia untuk menghindari stres yang terbaik adalah dengan tidur. Pada masa istirahat, saat kita tidur, terjadi proses perbaikan dalam hal kebugaran tubuh. Setelah terbangun, badan terasa segar.

Namun, masalah tidur dan perolehan kebugaran karena cukup tidur ternyata bukan hal yang sederhana. Sementara itu, insomnia adalah gejala yang bertentangan dengan hal tidur. 

Penderita insomnia mendapat kesulitan untuk tidur nyenyak. Ia akan tidur sekejap untuk kemudian mudah terbangun lagi, sering terbangun oleh mimpi buruk sehingga saat terbangun di pagi hari badan terasa lelah, tidak bergairah, dan diliputi keengganan untuk memulai bekerja.

Memang banyak orang yang merasa sulit tidur jika baru satu malam berada di tempat yang asing atau terpaksa menggunakan peralatan tidur yang berbeda. Sulit tidur seperti itu tidak dapat dikatakan sebagai insomnia. Insomnia adalah gejala sulit tidur yang bersifat kronis.

Kecemasan

Insomnia sering tidak dapat diatasi hanya dengan sekadar obat tidur karena kaitan insomnia dengan kondisi kecemasan psikologis sangat kuat. Bahkan, insomnia itu sendiri justru merupakan gejala yang bisa muncul oleh bermacam konflik emosional yang diderita seseorang. Jadi, gejala insomnia bukanlah gejala tunggal, kecuali pada gangguan tidur yang disebabkan oleh luka organik pada sistem saraf pusat atau perkembangan penyakit saraf sistemis, tetapi juga merupakan indikasi dari kondisi neurotik.

Karena itu, untuk kasus insomnia, para dokter hendaknya bekerja secara tim dengan psikolog klinis agar proses percepatan upaya penyembuhan penderita insomnia dapat dilakukan dengan hasil yang lebih optimal. Seba, siapa tahu sumber utama keluhan insomnia justru terletak pada aspek kepribadian penderita itu sendiri.

Upaya menyiasati insomnia

Dari penjelasan di atas, kita memahami bahwa tidak adanya rasa tenang dan aman secara psikologis menyebabkan ketegangan emosi berlanjut yang bisa menjadi salah satu penyebab seseorang menderita insomnia. Namun, terkadang upaya sederhana yang terurai di bawah ini dapat membantu meringankan gejala insomnia bahkan dapat menyembuhkan insomnia.

1. Cobalah membuat diri rileks satu jam menjelang tidur dengan mendengarkan musik yang lembut atau membaca cerita ringan yang tidak merangsang gejolak emosi.

2. Hindarilah aktivitas fisik yang melelahkan sebelum tidur. Rencanakan kegiatan menyikat gigi, aktivitas di toilet, dan membersihkan tubuh satu jam sebelum tidur.

3. Jika terasa sulit tidur, lebih baik berbaring diam melepas lelah daripada gelisah dan membalik-balikkan badan di tempat tidur karena tidur tidak akan datang. Tidur merupakan aktivitas yang datang dengan sendirinya secara rileks dan lembut, bukan hasil perjuangan yang keras. Jadi, semakin tubuh bergerak gelisah semakin jauh kemungkinan kita bisa tertidur dengan nyenyak.

4. Setiap masa tidur selalu akan ditandai oleh gerakan tubuh setelah jeda waktu tertentu. Waktu tidur yang tenang tanpa gerakan terjadi hanya sekitar 12 menit, untuk kemudian gerakan tubuh tertentu saat tidur membuat seseorang terbangun tiba-tiba. Namun, terbangun beberapa kali oleh gerakan tubuh bukan berarti telah terjadi gangguan tidur. Jadi, jangan terlampau cepat mengambil kesimpulan bahwa kita susah tidur.

5. Dengan cepat mengambil kesimpulan bahwa kita sulit tidur, tanpa disadari kita mengantisipasi diri untuk mendapatkan gangguan tidur saat waktu tidur tiba.

6. Melepaskan diri dari gangguan tidur dapat kita peroleh dengan berupaya menerima hal itu dengan jiwa besar, tanpa perlawanan keras dengan mengatakan kepada diri, misalnya, saya harus bisa tidur malam ini, atau mengucapkan kalimat seperti: ”Wah, hari sudah gelap, saya takut tidak bisa tidur lagi malam ini.” 

Berbagai ungkapan yang mengantisipasi diri untuk tidak bisa tidur akan justru membuat kita sulit tidur. Semakin dilawan atau semakin ditakuti, ketegangan emosi oleh perlawanan dan ketakutan tersebut membuat justru kita benar-benar sulit tidur.

7. Jika kita menyadari bahwa ada masalah yang belum terselesaikan, hendaknya kita cari bantuan profesional untuk mendapat solusi yang tepat. Yakinkan diri kita bahwa melalui ketekunan akan dapat menyelesaikan masalah yang selama ini mengakibatkan ketegangan emosi yang berperan dalam insomnia yang diderita. 

Solusi yang kita peroleh akan menurunkan ketegangan emosi secara bertahap dan insomnia pun secara bertahap akan dapat teratasi.

Senin, 12 Desember 2011

5 Manfaat Sehat Punya Banyak Teman



Berbahagialah Anda yang mempunyai banyak teman dan sahabat. Pasalnya, beberapa penelitian terbaru menemukan bukti bahwa menikmati kehidupan sosial yang aktif dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Para ilmuwan mempercayai bahwa menghabiskan waktu bersama teman atau sahabat akan membuat hidup lebih sehat baik secara mental maupun fisik. Berikut ini adalah 5 (lima) alasan ilmiah yang menunjukkan pengaruh kehadiran seorang teman terhadap tingkat kesehatan seseorang :

1) Mengurangi risiko Demensia
Memiliki kehidupan sosial yang sangat aktif dapat menurunkan risiko penyakit Alzheimer cukup besar yakni sekitar 70 persen, menurut temuan baru yang diterbitkan dalam Journal of International Neuropsychological Society.

2) Membuat Anda tetap fit

Riset terbaru dari peneliti asal Australia yang dipublikasikan dalam International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity menemukan bahwa teman atau sahabat memiliki pengaruh langsung terhadap tingkat aktivitas fisik dan kebiasaan makan.

3) Mengasah Otak Anda
Menjalin komunikasi yang baik dengan teman melalui chatting atau jejaring sosial media akan mendorong fungsi kognitif Anda. Hal ini seperti layaknya memecahkan teka-teki silang, menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ahli dari University of Michigan, AS.

4) Meningkatkan kesehatan jauh lebih baik
Memiliki relasi yang saling mendukung dapat menunda proses penuaan. Riset terbaru dari Brandeis University menemukan bahwa jaringan sosial yang kuat - terutama bila dikombinasikan dengan latihan fisik - dapat menunda penurunan kesehatan hingga sepuluh tahun.

5) Hidup lebih lama
Hubungan yang kuat dengan teman dan keluarga dapat meningkatkan peluang Anda untuk tetap bertahan hidup sekitar 50 persen, menurut penelitian terbaru para ilmuwan dari Brigham Young University.

Lompatan Belalang

Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gem...